Frekuensi Tidur Berpengaruh Terhadap Serangan Jantung

Ditulis Oleh df | Rabu, 02 Oktober 2019 01:57 | Dibaca : 44 Kali | Terakhir Diperbaharui : Rabu, 02 Oktober 2019 04:06
  Serangan jantung kerap dikira angin duduk, karena diawali dengan nyeri dada. Serangan jantung kerap dikira angin duduk, karena diawali dengan nyeri dada.
Sebuah studi menggunakan frekuensi tidur untuk mendeteksi serangan jantung.

 

REPUBLIKA.CO.ID, BOULDER -- Makan dengan nutrisi seimbang, rutin olahraga, serta menghindari rokok belum membuat seseorang melakoni gaya hidup sehat. Masih ada satu elemen yang melengkapi, yakni waktu tidur cukup dan berkualitas.


Frekuensi tidur itu berguna mendeteksi risiko serangan jantung. Temuan terungkap dalam studi yang digagas peneliti dari Universitas Colorado Boulder. Riset telah dipublikasikan di Journal of the American College of Cardiology.

 

Tim peneliti berkolaborasi dengan Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Universitas Manchester. Mereka menganalisis informasi genetik, rekam medis, dan kebiasaan tidur 461 ribu peserta. Usia responden berkisar antara 40 sampai 69 tahun.

 

Periset sengaja memilih peserta yang belum pernah mengalami serangan jantung. Observasi berlangsung selama tujuh tahun. Hasilnya, peserta yang tidur kurang dari enam jam tiap malam memiliki risiko 20 persen lebih besar mengalami serangan jantung.

 

Statistik itu disimpulkan selama periode studi, dibandingkan dengan mereka yang tidur tujuh sampai delapan jam tiap malam. Peserta yang tidur terlalu lama pun lebih berisiko. Mereka yang tidur lebih dari sembilan jam berisiko 34 persen lebih besar.

 

Artinya, posisi paling aman adalah mereka yang tidur enam sampai sembilan jam tiap malam. Peserta yang hanya tidur lima jam tiap malam memiliki risiko serangan jantung 52 persen lebih tinggi daripada peserta yang tidur tujuh sampai delapan jam.

 

Tidur panjang selama 10 jam juga kurang menyehatkan, dengan risiko dua kali lebih besar. Risiko tetap ada setelah memperhitungkan faktor lain seperti kebiasaan olahraga, kesehatan mental, komposisi tubuh, dan status sosial ekonomi, dikutip dari laman Bicycling, Rabu (2/10).

Beri Komentar

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.